![]()
BANYUASIN — Buser 24 com
PT PLN (Persero) UIP3B Sumatera UPT Palembang menunjukkan komitmennya dalam melestarikan kain songket sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Kegiatan berupa pelatihan, pemberian bantuan peralatan menenun serta bahan pendukung produksi kain songket tersebut dilaksanakan di Gedung Desa Merah Mata, Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, Rabu (9/9/2026).
Program tersebut turut melibatkan Indonesian Social Sustainability Forum (ISSF) sebagai pendamping kegiatan. Pemberdayaan ini menjadi langkah strategis mengingat jumlah perajin kain songket di wilayah tersebut terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun.
General Manager PT PLN (Persero) UIP3B Sumatera UPT Palembang, Elvanto Yanuar Ikhsan, ST., MM., M.Sc., melalui program TJSL menegaskan pentingnya menjaga keberlangsungan para perajin sekaligus mempertahankan songket sebagai warisan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Fenomena semakin berkurangnya jumlah perajin, menurutnya, perlu mendapat perhatian bersama.
Tidak hanya melalui pemberian bantuan peralatan, tetapi juga dengan meningkatkan kemampuan para perajin dalam mengembangkan dan memasarkan produk.
Melalui program tersebut, para perajin mendapatkan pelatihan, bantuan peralatan, bahan benang, serta kesempatan melakukan studi banding. Pendampingan juga diarahkan pada peningkatan kemampuan pemasaran agar produk songket mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Sementara itu, asisten Manager PT PLN (Persero) UIP3B Sumatera UPT Palembang, Yurin, mengatakan PLN secara umum memiliki komitmen untuk mendukung berbagai program pemberdayaan masyarakat.
Khusus melalui program TJSL bagi kaum perempuan di Desa Merah Mata, PLN berupaya memberikan kontribusi positif melalui pemberdayaan usaha tenun songket.
“Tenun songket bukan hanya sekadar kerajinan, tetapi juga merupakan identitas budaya yang mencerminkan keindahan dan keterampilan tangan luar biasa dari para perajin, yang sebagian besar merupakan kaum perempuan,” ujarnya.
Menurutnya, bantuan yang diberikan diharapkan dapat memperkuat kapasitas para perajin, baik dari sisi peralatan, keterampilan maupun akses pasar.
PLN juga berkomitmen membantu mempromosikan produk songket melalui media sosial yang dimiliki perusahaan.
Bahkan, PLN akan membantu pembuatan website agar produk songket Desa Merah Mata memiliki daya saing lebih luas, tidak hanya di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga berpeluang menembus pasar internasional.
Wakil Bupati Banyuasin, Ir. Netta Indian, S.P., M.M., yang turut hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada PLN atas kepeduliannya terhadap keberlangsungan para perajin songket di Banyuasin.
Menurutnya, pemerintah daerah akan terus mendorong agar produk songket dapat memiliki pasar yang lebih luas sehingga mampu meningkatkan semangat para perajin untuk terus memproduksi.
Salah satu upaya yang dinilai potensial adalah menitipkan produk songket di toko-toko yang menjual makanan khas Palembang, seperti pempek, maupun produk kopi khas daerah.
“Banyak warga dari berbagai daerah yang datang ke Palembang untuk membeli pempek dan kopi. Melihat potensi tersebut, pemerintah daerah akan membantu para perajin agar produk songket dapat dititipkan di toko-toko ternama yang menjual pempek dan kopi khas Palembang,” ungkapnya.
Bantuan peralatan dan bahan produksi tersebut disambut antusias oleh Kartika, salah seorang perajin sekaligus Ketua Kelompok Pengrajin Kain Songket Jaya Bersama.
Ia mengaku bersyukur karena bantuan PLN membuat kegiatan menenun kembali menggeliat dan diharapkan mampu membantu meningkatkan perekonomian rumah tangga para perempuan perajin.
Kartika mengatakan selama ini dirinya menekuni pekerjaan sebagai penenun dengan modal pribadi. Sebelum mendapatkan bantuan, ia dan anggota kelompok lebih banyak bekerja sebagai tenaga penenun yang menerima upah dari pemilik kain.
Namun, setelah mendapatkan bantuan peralatan dan bahan benang dari PLN, para anggota kelompok kini memiliki kesempatan memproduksi kain songket sendiri dan memasarkannya secara langsung dengan nilai jual yang lebih baik.
“Dengan adanya bantuan peralatan dan benang dari PLN, kami berharap usaha kain songket dapat tumbuh kembali sehingga mampu meningkatkan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Program TJSL PLN tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi menjadi langkah berkelanjutan dalam menjaga warisan budaya sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi perempuan perajin songket di Kabupaten Banyuasin.
(Ibrahim)
















Komentar