![]()
Berau – Kerusakan ekosistem alam di Kabupaten Berau menjadi faktor utama yang menyebabkan banjir kerap terjadi di sejumlah titik. Salah satunya terlihat pada peristiwa banjir yang terjadi hari ini di depan Kantor DPRD Berau.
Banjir tersebut diduga kuat dipicu oleh menurunnya kualitas lingkungan akibat berbagai aktivitas yang tidak ramah ekosistem. Sejumlah faktor menjadi penyebab utama terganggunya keseimbangan alam di wilayah tersebut.
Di antaranya adalah pembabatan hutan untuk aktivitas pertambangan, perkebunan, maupun pembangunan yang tidak terkelola dengan baik. Kondisi ini menyebabkan hilangnya fungsi hutan sebagai penyerap air hujan sekaligus penyangga keseimbangan lingkungan.
Selain itu, degradasi kawasan rawa dan daerah aliran sungai (DAS) yang dialihfungsikan menjadi lahan bangunan maupun pertanian juga memperparah kondisi. Hilangnya area resapan air membuat volume air hujan tidak tertampung secara optimal.
Faktor lainnya adalah meningkatnya erosi tanah dan sedimentasi sungai. Akibatnya, sungai menjadi dangkal dan tidak mampu menampung debit air dalam jumlah besar, sehingga air dengan mudah meluap ke permukiman warga.
Di wilayah pesisir, kerusakan terumbu karang dan hutan mangrove turut memberikan dampak terhadap sistem drainase alami. Meski lebih dominan menyebabkan abrasi dan intrusi air laut, kerusakan ini tetap berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem secara keseluruhan.
Kondisi tersebut membuat Kabupaten Berau semakin rentan terhadap banjir, terutama saat curah hujan tinggi.
Untuk itu, upaya pemulihan ekosistem dinilai sangat penting dilakukan secara berkelanjutan. Langkah-langkah seperti penghijauan kembali, pengelolaan kawasan rawa yang bijak, serta pengaturan tata guna lahan menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi banjir yang terus berulang.
Pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan dapat bersinergi dalam menjaga dan memulihkan lingkungan demi mencegah bencana serupa di masa mendatang.(Fendy)
