Beranda NASIONAL Menteri Desa PDTT Abdul Halim Iskandar, Kunjungi Rumah Batik HW Trans KTM...

Menteri Desa PDTT Abdul Halim Iskandar, Kunjungi Rumah Batik HW Trans KTM Lunang Silaut Pessel

BERBAGI

FPIISumbar.com,Pesisir Selatan – Untuk mendorong dan memotivasi para pengrajin batik, Menteri Desa PDTT RI, Abdul Halim Iskandar berkunjung ke Rumah Produksi Batik Printing Himpunan Wira Usaha Transmigrasi (HW Trans) Kota Terpadu Mandiri (KTM) Lunang Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan, Sabtu (25/7).

Dalam kunjungan tersebut Menteri Desa PDTT didampingi Bupati Hendrajoni, disambut pimpinan Rumah Produksi Batik Printing HW Trans Lunang Silaut, Dewi Hapsari Kurniasih, bersama suaminya, Sunardi.

Menteri Desa PPDT RI, Abdul Halim Iskandar, dengan didampingi istri, Ny Lilik Umi Nasriah, serta Bupati Pesisir Selatan, juga menyempatkan diri membubuhkan tanda tangan pada kain batik yang sedang dalam proses printing.

“Ini merupakan sebuah kehormatan bagi saya dan anggota pengrajin batik lainnya di rumah produksi ini. Sebab melalui kunjungan selama dua hari ke daerah ini, beliau menyampaikan diri singgah ke tempat kami,” tutur Dewi.

Pimpinan Rumah Produksi Batik Printing HW Trans Lunang Silaut, yang akrab Dewi, menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan menteri bersama rombongan ke tempat usahanya itu.

“Kunjungan ini akan menjadi penyemangat bagi saya dan anggota yang bergabung pada usaha rumah produksi batik yang berada di KTM Silaut ini. Apalagi batik sudah sangat dikenal dan disukai oleh masyarakat untuk dijadikan sebagai motif pakaian,” katanya.

Dia juga berharap kunjungan itu benar-benar akan memberikan angin segar terhadap kemajuan batik di daerah itu, terutama terhadap motif yang diunggulkan.

“Ada dua motif batik yang kami unggulkan dan kami produksi di Rumah Produksi Batik Printing HW Trans Lunang Silaut ini. Diantaranya, batik tanah liek, dan batik Mandeh Rubiah,” katanya.

Terkait berapa harga per meter batik yang diproduksi di rumah batik itu, tergantung dari permintaan konsumen.

“Saya katakan demikian, sebab bila pemesanan meminta batik tulis, harganya akan lebih mahal atau bisa di atas Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta per meter. Beda bila pembuatannya dilakukan dengan cara di printing, tentu akan lebih murah. Namun itu tergantung pula pada dasar kainya,” jelas Dewi lagi. (Team FPII Sumbar)