oleh

Bukit Mimpi , Pesan Anak Korban Banjir Melalui Kuas Dan Warna

Loading

Buser24.com | Aceh Tamiang.

Bencana mungkin mampu merusak rumah, memutus aktivitas, bahkan meninggalkan trauma yang panjang. Namun, ada sesuatu yang tidak seharusnya ikut runtuh, mimpi anak-anak.

Pesan itulah yang terasa kuat dari program “Bukit Mimpi”, yang menghadirkan ruang bagi anak-anak terdampak bencana untuk kembali berkarya sekaligus menumbuhkan harapan.

Mengutip status yang diunggah melalui akun Facebook Nora Ida Nita, anggota DPRA Provinsi Aceh, disebutkan bahwa “Bukit Mimpi” menjadi ruang bagi anak-anak terdampak bencana untuk kembali berkarya dan menumbuhkan harapan.

Showcase tersebut berlangsung pada 29 September hingga 28 Oktober 2026 di KiN Space, SCBD, Jakarta. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Ekraf Peduli–Pulih Bersama, Bangkit Berdaya, sekaligus rangkaian Program Melukis Bersama Anak-Anak.

Yang membuat kegiatan ini memiliki makna lebih dalam adalah hadirnya karya anak-anak dari daerah yang pernah dihantam bencana.

Sebanyak 20 karya anak dari Aceh Tamiang dan Kota Pariaman dipilih untuk dipamerkan di Jakarta.

“Dari Daerah Bencana ke Ruang Pamer Jakarta”

Bagi sebagian orang, lukisan anak mungkin hanya dipandang sebagai goresan warna yang sederhana. Tetapi bagi anak-anak yang pernah mengalami bencana, setiap goresan dapat menjadi cerita.

Ada ketakutan yang mungkin tidak mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata. Ada kehilangan yang belum sepenuhnya mereka pahami. Dan ada pula harapan tentang rumah, keluarga, sekolah, lingkungan, serta masa depan yang ingin mereka lihat kembali seperti sediakala.

Karena itu, “Bukit Mimpi” seharusnya tidak berhenti sebagai sebuah pameran karya seni.

Ia perlu dilihat sebagai pesan bahwa pemulihan pascabencana tidak semata-mata berbicara tentang membangun kembali rumah dan infrastruktur. Pemulihan juga berarti mengembalikan keberanian anak-anak untuk bermimpi.

Di sinilah ekonomi kreatif menemukan wajahnya yang paling manusiawi.

Program Ekraf Peduli yang dilaksanakan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat melalui berbagai subsektor ekonomi kreatif di wilayah terdampak bencana menunjukkan bahwa kreativitas dapat menjadi salah satu pintu pemulihan sosial.

“Jangan Biarkan Anak-Anak Hanya Menjadi Statistik Bencana”

Dalam setiap bencana, angka korban, jumlah rumah rusak, nilai kerugian, hingga jumlah bantuan memang penting. Pemerintah membutuhkan data untuk mengambil keputusan.

Namun, jangan sampai anak-anak hanya berakhir sebagai angka dalam laporan penanganan bencana.

Di balik setiap angka terdapat kehidupan. Ada anak yang kehilangan ruang bermain. Ada yang harus meninggalkan rumahnya. Ada yang mengalami perubahan lingkungan secara tiba-tiba. Bahkan mungkin ada yang menyimpan trauma yang tidak terlihat.

Karena itu, ruang kreatif seperti “Bukit Mimpi” memiliki arti penting.

Anak-anak diberikan kesempatan untuk berbicara melalui warna dan imajinasi. Mereka tidak dipaksa untuk melupakan bencana, tetapi diberi ruang untuk mengolah pengalaman tersebut menjadi sesuatu yang positif.

Bukankah pemulihan sejati adalah ketika seorang anak kembali berani membayangkan masa depannya?

“Aceh Tamiang dan Pesan yang Lebih Besar”

Terpilihnya karya anak-anak Aceh Tamiang untuk dipamerkan di Jakarta juga membawa kebanggaan tersendiri.

Aceh Tamiang tidak hanya dikenal melalui cerita tentang bencana dan dampaknya. Dari daerah yang pernah menghadapi situasi sulit itu, kini muncul karya anak-anak yang dibawa ke ruang publik yang lebih luas.

Ini merupakan pesan bahwa Aceh Tamiang bukan hanya tempat yang membutuhkan bantuan, tetapi juga tempat yang memiliki potensi, kreativitas, dan anak-anak dengan mimpi besar.

Di sinilah kita perlu mengubah cara pandang terhadap daerah terdampak bencana.

Jangan hanya melihatnya sebagai wilayah yang harus dipulihkan secara fisik. Lihat pula potensi manusianya. Lihat anak-anaknya. Lihat kreativitas generasi mudanya.

Sebab, membangun kembali sebuah daerah tanpa membangun kembali harapan manusianya adalah pembangunan yang belum selesai.

“Jangan Berhenti pada Showcase”

Namun, ada satu catatan penting.
Program seperti ini jangan berhenti ketika pameran berakhir pada 28 Oktober 2026.

Jangan sampai “Bukit Mimpi” hanya menjadi satu momentum yang indah untuk dikenang, lalu hilang setelah lampu pameran dipadamkan.

Harus ada keberlanjutan.
Anak-anak terdampak bencana perlu mendapatkan ruang seni dan kreativitas secara berkelanjutan. Sekolah, pemerintah daerah, komunitas, pelaku ekonomi kreatif, dunia usaha, hingga masyarakat sipil dapat mengambil peran.
Jika satu lukisan mampu membuat seorang anak kembali percaya bahwa ia masih memiliki masa depan, maka ruang seperti ini layak diperbanyak.
Bahkan bukan tidak mungkin, dari anak-anak yang hari ini menorehkan warna di atas kanvas, kelak lahir pelukis, desainer, ilustrator, fotografer, animator, pelaku industri kreatif, atau profesi lainnya.

Dari “Bukit Mimpi” Menuju Bukit Harapan

Pada akhirnya, “Bukit Mimpi” bukan sekadar tentang lukisan.
Ia tentang bagaimana kita memperlakukan anak-anak setelah bencana.
Apakah mereka hanya akan kita berikan bantuan material?
Ataukah kita juga akan memberikan ruang untuk bermimpi, berkarya, dan percaya bahwa masa depan masih terbuka?
Dua puluh karya anak Aceh Tamiang dan Kota Pariaman yang hadir di Jakarta mungkin terlihat kecil dibandingkan besarnya persoalan pascabencana.
Tetapi perubahan besar memang sering dimulai dari sesuatu yang sederhana.

Satu kuas.
Satu lembar kanvas.
Satu anak.
Dan satu mimpi.

Karena bencana boleh merobohkan bangunan, tetapi jangan sampai kita membiarkan bencana merobohkan mimpi anak-anak.

Jika “Bukit Mimpi” mampu menjadi jembatan dari trauma menuju harapan, maka tugas kita berikutnya adalah memastikan jembatan itu tidak berhenti di Jakarta.

Biarkan anak-anak Aceh Tamiang terus bermimpi.

Dan yang lebih penting, pastikan kita semua ikut menjaga agar mimpi itu memiliki jalan untuk menjadi kenyataan.

Penulis : Andi /waratawan Buser24.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *