![]()
Buser24com. PULAU MERBAU – Ironi pembangunan terjadi di beranda terdepan NKRI. Desa Tanjung Bunga dan Kuala Merbau, Kecamatan Pulau Merbau, Kepulauan Meranti, masih “miskin” infrastruktur. Jalan poros utama rusak parah, berlumpur saat hujan dan berdebu saat kemarau.
Pantauan di lapangan, Kamis (1/5/2026), Jalan Poros Datuk Setia Indra dan jalan poros di depan rumah Kepala Desa Tanjung Bunga belum diaspal. Lebih memprihatinkan, ruas Jalan Poros Desa Kuala Merbau dari Desa Renak Dungun menuju kantor Kades. Besi-besi angkur jembatan lama timbul ke permukaan badan jalan, sangat membahayakan pengendara motor, terutama malam hari.
“Kalau malam gelap, bisa celaka. Sudah banyak yang jatuh. Ini desa pemekaran dari Kuala Merbau, tapi pembangunan tak ada. Kami seperti dianaktirikan,” keluh M. Yusuf, tokoh masyarakat Tanjung Bunga.
Wabup Muzamil Sudah Turun, Warga Tunggu Realisasi.
Sejumlah tokoh menyebut Wakil Bupati Kepulauan Meranti, Muzamil Baharudin, baru-baru ini turun langsung bersama Sekda, Kepala Dinas PUPR, dan Camat Pulau Merbau Hermansyah, SH. Rombongan meninjau Desa Centai, Batang Meranti, Renak Dungun, hingga Kuala Merbau.
Kunjungan itu menumbuhkan harapan. Warga menitipkan nasib jalan poros di dua desa, termasuk jalan poros di depan kantor camat yang kondisinya sama hancur. Mereka mendesak agar jadi prioritas APBD Meranti, Bantuan Keuangan Pemprov Riau, hingga DAK Pusat 2027.
Pak Wabup sudah lihat sendiri. Jangan cuma datang foto-foto. Kami butuh bukti, bukan janji,” tegas seorang tokoh pemuda Kuala Merbau.
Posisi Strategis: Tameng Migas Pulau Padang dari Selat Malaka.
Pulau Merbau bukan pulau biasa. Ini pulau terluar Meranti yang berhadapan langsung dengan Selat Malaka-Malaysia. Desa Tanjung Bunga, Kuala Merbau, dan Centai adalah garis pantai terdepan NKRI.
Secara geostrategis, Pulau Merbau melindungi Pulau Padang – Teluk Belitung, salah satu ladang minyak bumi produktif di Riau. Tanpa Pulau Merbau, hantaman ombak Selat Malaka langsung ke fasilitas migas.
Karena itu, warga mendesak perusahaan pengelola migas Pulau Padang ikut bertanggung jawab. “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Migas diambil dari sini, tapi pulau yang jadi tameng malah dibiarkan rusak,” kata tetua adat setempat.
Hingga berita ini ditulis, belum ada data resmi berapa kontribusi CSR perusahaan migas ke Kecamatan Pulau Merbau dalam 3 tahun terakhir.
Analisis: Infrastruktur Beranda Depan Taruhan Kedaulatan.
Rusaknya jalan poros di Pulau Merbau bukan sekadar soal kenyamanan. Ini soal kedaulatan dan keadilan pembangunan. Sebagai pulau terluar, akses jalan adalah urat nadi logistik, pertahanan, dan ekonomi warga.
Jika dibiarkan, akan muncul ketimpangan dan potensi kerawanan di perbatasan. Pemerintah pusat punya program 3T: Terdepan, Terluar, Tertinggal. Pulau Merbau masuk 2 kategori sekaligus: Terdepan dan Terluar.
Editor….zamri.
