![]()
BUSER24.COM, Lombok Timur – Kaderisasi adalah napas panjang sebuah partai. Tanpa kaderisasi, partai akan berjalan tanpa arah, terputus dari nilai, dan rapuh oleh godaan kekuasaan. Maka tidak heran, jika kaderisasi membentuk kader kader militan.
Kesadaran itulah yang melandasi Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Bulan Bintang (PBB) Lombok Timur saat menggelar Rapat Kerja Cabang (Rakercab) yang berlangsung di Kantor DPC PBB Lombok Timur, Rabu (31/12/2025).
Kegiatan tersebut dirangkai dengan diskusi reflektif dan pendidikan politik untuk para kader. Forum tersebut menjadi upaya merawat kembali bara perjuangan yang sempat meredup oleh waktu dan dinamika politik.
Bagi jajaran pengurus, pertemuan itu bukan sekadar rutinitas organisasi, melainkan ruang perenungan tempat menimbang masa lalu, membaca masa kini, dan menata arah masa depan.
Sekretaris DPC PBB Lombok Timur, Mahrun, S.H., yang mewakili Ketua DPC TGH. Muliadi, FT, S.Pd.I., M.Pd., menegaskan bahwa kekuatan partai tidak ditentukan oleh gemerlap simbol, melainkan oleh kualitas kader yang menghidupinya. Konsolidasi dan peningkatan kapasitas kader, menurutnya, adalah fondasi yang tak boleh goyah.
“Partai besar selalu lahir dari kader yang ditempa dengan nilai dan kesadaran,” ujarnya. Pendidikan politik, lanjut Mahrun, adalah jantung militansi tempat idealisme dirawat agar tidak larut dalam pragmatisme. Dari sanalah PBB berharap menumbuhkan kembali kepercayaan publik yang pernah menguat di masa silam.
Baginya, kejayaan bukan peristiwa kebetulan. Ia adalah hasil dari kerja kolektif yang rapi, berulang, dan sabar, dimulai dari soliditas internal. Tanpa itu, politik kehilangan makna dan berubah menjadi sekadar slogan kosong.
Nada historis mengalir dalam paparan Wakil Ketua III PBB Lombok Timur, Fathul Mubin. Ia mengajak kader menengok perjalanan PBB sebagai partai berbasis Islam yang pernah menjadi tumpuan harapan masyarakat Lombok Timur. Sejarah itu, katanya, tak bisa dilepaskan dari sosok pendiri partai, Prof. Yusril Ihza Mahendra.
Namun bagi Fathul, sejarah bukan untuk dipuja, melainkan direnungkan. Ia adalah cermin untuk melihat kekurangan dan sekaligus bahan bakar untuk melangkah lebih jauh. Karena itu, ia mengajak seluruh kader dan simpatisan memperkuat sinergi dan kekompakan sebagai jalan mengembalikan kepercayaan masyarakat. Tepuk tangan yang mengiringi ajakan itu seolah menjadi penanda bahwa keyakinan belum padam.
Lebih jauh, Fathul menekankan bahwa politik sejatinya adalah persoalan moral. Niat yang lurus—untuk mengabdi kepada masyarakat, daerah, dan negara—adalah akar dari politik yang bermartabat. Dari niat itulah integritas tumbuh, dan dari integritas lahir kepercayaan.
Komitmen pembenahan juga disuarakan anggota DPRD Lombok Timur dari Fraksi PBB, Hamdan, S.Pd.SD. Ia menggambarkan bagaimana PBB Lombok Timur kini menata diri dari lapisan paling dasar. Ranting dan anak cabang dijadikan poros utama kaderisasi, tempat partai kembali bersentuhan langsung dengan denyut masyarakat.
Target pada pemilu mendatang pun dipasang secara realistis: seluruh daerah pemilihan terisi. Bukan sebagai ambisi semata, melainkan sebagai konsekuensi logis dari konsolidasi yang dirancang dengan kesungguhan.
Rakercab itu juga menghadirkan suara dari penyelenggara demokrasi. Ketua Divisi Hukum dan Pengawasan KPU Lombok Timur, Dr. Retno Sirnopati, M.Hum., mengingatkan bahwa pendidikan politik tidak boleh terputus oleh pergantian generasi. Demokrasi yang sehat, menurutnya, hanya lahir dari pemahaman politik yang utuh dan berkesinambungan.
Pandangan tersebut dipertegas Komisioner Bawaslu Lombok Timur, Johari Marjan, M.Pd., yang menekankan pentingnya pengawasan partisipatif dari partai politik agar demokrasi berjalan dalam koridor kejujuran dan integritas.
Dari unsur pemerintah daerah, Hidayat mewakili Badan Kesbangpoldagri Lombok Timur merangkum benang merah diskusi hari itu: kader adalah denyut nadi partai. Tanpa kader yang kritis, argumentatif, dan konstruktif, partai akan kehilangan arah dan daya juangnya.
Melalui Rakercab dan pendidikan politik tersebut, PBB Lombok Timur kembali meneguhkan tekad. Konsolidasi struktural dan pembinaan kader dijadikan jalan sunyi namun strategis untuk melahirkan pribadi-pribadi politik yang berintegritas, adaptif, dan berpihak pada kepentingan rakyat. Dari Bumi Patuh Karya, PBB berupaya menyalakan kembali cahaya Bulan Bintang perlahan, namun dengan penuh keyakinan sejarah kejayaan dapat ditulis ulang.
