![]()
BUSER24, LANGKAT — Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Langkat ke-276, Yayasan BUTULENU (Budaya Tuah Leluhur Nusantara) menggelar Pagelaran Lukisan Kebatinan Para Leluhur, Jumat (16/1/2026) malam.

Kegiatan ini berlangsung khidmat dan penuh makna di Taman Budaya Tengku Amir Hamzah, Stabat Kabupaten Langkat.

Pagelaran budaya tersebut menghadirkan Tuan Muda Sraddha Leluhur dan Datuk Rimba sebagai pelukis kebatinan, dan Atok Labu bertindak sebagai host yang memandu jalannya acara.
Kegiatan ini bertujuan untuk mewujudkan pelestarian nilai-nilai budaya serta penghormatan terhadap para leluhur yang berjasa dalam sejarah Kabupaten Langkat.

Dalam pagelaran tersebut, dibuat lukisan kebatinan yang merepresentasikan sosok leluhur besar Langkat, di antaranya Almarhum Syeikh Abdul Salam bergelar Datuk Landak, dan sosok leluhur Yang Mulia Almarhum Raja Kahar.
Ketua Yayasan Budaya Tuah Leluhur Nusantara, Mas’ud,SH.MH yang bergelar Tuan Muda Sraddha Leluhur menyampaikan bahwa pagelaran ini bertujuan untuk mengingatkan generasi muda akan akar sejarah dan kearifan lokal Langkat, sekaligus memperkuat identitas budaya daerah di tengah arus modernisasi.

“Kita sebagai titisan atau generasi hari ini mengetahui cerita tentang adanya sosok leluhur Syekh Abdul Salam bergelar Datok Landak yang dimakamkan di Desa Timbang Lawan, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat yang hidup dan melakukan syi’ar agama Islam pada akhir tahun 1600 di masa Raja Abdullah bin Raja Dewa Sakti.
Dan melukis sosok YM.Almarhum Raja Kahar sebagai Raja Langkat pertama yang dikenal sebagai pendiri dan membangun Istana di Kota Dalam pada 17 Januari 1750,” ujar Mas’ud.
“Bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1163 Hijriah merupakan raja asal mula mendirikan kerajaan di bumi Langkat yang bertuah ini, sehingga hari jadi Langkat dihitung dari peristiwa tersebut namun apakah ada yang mengetahui wujud dari sosok sang raja tersebut jawabnya tidak sebab pada masa itu di tahun 1700 an belum ada teknologi untuk mengabadikan gambar, maka hari ini yayasan BUTULENU hadir untuk membuat gambar sang raja Dengan cara melukis kebatinan para leluhur,” lanjutnya.

Diterangkan Mas’ud, dalam kesempatan ini Yayasan Budaya Tuah Leluhur Nusantara juga menjelaskan Nashab (garis keturunan) keatas raja Kahar adalah Raja Kahar bin Raja Abdullah bin Raja Dewa Sakit bin Raja Dewa Syahdan bin Raja Namohaji bin Raja Perangin-angin bin Raja Palagan Karo bin Batara Wisndu berasal dari Dinasty Cilukunya yang terletak di wilayah India selatan.
Sedangkan Nashab kebawah Raja Kahar adalah,Raja Badiul zaman,Raja Tuah Itam,Raja Ahmad,Sultan Musa,Sultan Aziz,dan Sultan Mahmud. Yang berakhir pada saat terjadinya Gerakan Revolusi Sosial pada tahun 1946.
Dan pada masa Raja Badiul zaman (Raja Bingai) di bentuk Kejuruan yang di sebut Raja Kejuruan Stabat,Raja Kejuruan Bahorok,Raja Kejuruan Pungsi dan Beberapa kejuruan lainnya untuk membantu Pemerintahan Raja Badiul zaman pada masa itu.
“Kami juga memamerkan sebagian kecil pusaka (Aer tepak) berupa senjata perang dan senjata Marwah para leluhur yang di miliki oleh Yayasan BUTULENU,” terangnya.
Diakhir kata sambutannya Tuan muda mengucapkan terimakasih kepada Bupati Langkat Bapak H.Syah Afandin yang telah membantu konsumsi berupa 200 kotak makanan bergizi untuk para tamu undangan dan juga kepada Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Langkat yang telah mendukung serta memberikan ijin pasilitas tempat terlaksananya kegiatan ini.
Tak lupa mengucapkan terimakasih kepada seluruh elemen masyarakat yang hadir.
Hermanto bergelar Ki Rendas selaku Ketua Panitia dalam pegelaran mengatakan, lukisan kebatinan inimerupakan implementasi dari seni budaya leluhur dimasa dan kami sangat kegiatan ini dapat terlaksana di tengah masyarakat apalagi pada momen peringatan hari jadi kabupaten Langkat semoga kegiatan ini dapat terlaksana kembali di momen yang sama di kemudian hari.
Sementara itu, Ketua Dewan Syarikat Melayu Langkat (DSML) adalah H. Sukhyar Mulyamin, S.Sos, M.Si yang turut hadir sangat megapresiasi kegiatan pegelaran lukisan kebatinan. “Hal ini merupakan salah satu seni dan budaya yang mampu menghidupkan kembali nilai spiritual, sejarah, dan budaya leluhur sebagai bagian penting dalam perjalanan Kabupaten Langkat yang telah berusia 276 tahun. Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat pelestarian budaya dan penghormatan terhadap jasa para leluhur terus tumbuh dan menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang,” pungkasnya.
