![]()
Buser24.com | Langkat –
Musibah banjir yang melanda wilayah Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, justru menjadi momentum mempererat kerukunan umat beragama serta menguatkan nilai moderasi beragama di tengah masyarakat.
Laman dan teras Gereja Katolik Stasi Santo Petrus, Desa Bengkel Suka Ramai, kini difungsikan sebagai rumah sekolah sementara bagi murid-murid Sekolah Dasar yang bangunannya hancur terseret banjir. Anak-anak tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar meski harus belajar di gereja maupun di bawah tenda-tenda darurat.
Seorang guru bernama Dapot Siburian tetap setia mendampingi dan mengajar para muridnya di tengah keterbatasan. Ia memastikan proses pendidikan tidak terhenti meski berada dalam situasi darurat pascabencana.
Pimpinan Gereja Katolik Bengkel, Toni Kolas Silaholo, menyatakan tidak keberatan gereja dijadikan tempat belajar sementara bagi anak-anak terdampak banjir. Menurutnya, pendidikan dan kemanusiaan adalah tanggung jawab bersama tanpa memandang latar belakang agama.
Hal tersebut disampaikan Desy Nopita, relawan Salapian Peduli, saat menyalurkan bantuan dari Posko KUA Salapian Peduli, Minggu (14/12/2025). Bantuan yang diberikan meliputi pakaian sekolah, tas, buku, alat tulis dan ATK, lampu emergency untuk penerangan, serta mie instan dan air mineral.
Sementara itu, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Langkat melalui Wakil Sekretaris H. M. Kurnia Amir, S.Sos.I., S.Pd.I., MM, yang juga menjabat sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Salapian, memberikan apresiasi tinggi terhadap peran para relawan.
Ia menegaskan bahwa kepedulian yang ditunjukkan tidak hanya berupa bantuan materi, tetapi juga pendampingan keimanan, penguatan psikologis anak-anak, serta kepedulian terhadap keberlangsungan pendidikan di tengah masa darurat hingga proses pemulihan pascabanjir.
“Ini adalah contoh nyata moderasi beragama yang hidup dan tumbuh dari kepedulian serta solidaritas kemanusiaan,” ujarnya.
Liputan: Rid. STP
Editor: Mas Bagus
