![]()
Asahan, Buser24.com — Takdir sering kali berjalan di luar rencana manusia. Begitulah perjalanan hidup AKBP Revi Nurvelani, S.H., S.I.K., M.H. Sosok yang kini menjabat Kapolres Asahan itu, sejatinya tak pernah membayangkan masa depannya akan dihabiskan dalam balutan seragam kepolisian.
Lahir di Tasikmalaya pada 13 Agustus 1982 dari keluarga sederhana, Revi tumbuh sebagai anak guru. AKBP Revi Nurvelani adalah seorang suami dan ayah dari tiga anak. Bersama sang istri, Rani Puspita.
Nilai-nilai disiplin, kesederhanaan, dan tanggung jawab sudah akrab dengannya sejak kecil. Masa remajanya dijalani di Bandung, tinggal bersama saudara, hidup sebagaimana pelajar pada umumnya—belajar, berolahraga, dan menata mimpi.
Saat itu, cita-citanya jauh dari dunia kepolisian. Revi ingin menjadi guru matematika. Ia bahkan telah merencanakan melanjutkan pendidikan ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun sebuah pilihan hidup mengubah segalanya. Revi akhirnya melangkah ke Akademi Kepolisian dan lulus pada 2005—sebuah jalan yang tak pernah ia rancang, tetapi kelak menjadi ladang pengabdian.
Karier kepolisian Revi dimulai pada 27 Desember 2005. Ia ditempa dari bawah, mengawali tugas sebagai KSPK dan Kanit Buser Polres Lebak, lalu Danton Sabhara Polda Banten. Dunia reserse menjadi ruang belajar terpanjang baginya—keras, menuntut ketelitian, dan sarat tanggung jawab.
Nama Revi Nurvelani kian matang saat dipercaya menjabat Kasat Reskrim di sejumlah wilayah, termasuk Polres Binjai dan Polres Tanjungbalai. Berbagai kasus kriminal umum hingga narkotika menjadi bagian dari kesehariannya. Ia dikenal tenang, sistematis, dan lebih memilih bekerja dalam senyap ketimbang sorotan.
Pada Januari 2024, Revi dipercaya memimpin Polres Nias. Setahun kemudian, tepatnya Juli 2025, tongkat komando Kapolres Asahan resmi berada di tangannya melalui serah terima jabatan yang dipimpin Kapolda Sumatera Utara.
Di Asahan, tantangan jauh dari ringan. Wilayah yang luas, dinamika sosial yang beragam, serta ancaman kriminalitas menjadi pekerjaan rumah harian. Namun, di bawah kepemimpinannya, angka kriminalitas tercatat menurun. Pengungkapan kasus narkotika juga menunjukkan hasil signifikan sepanjang 2025—buah dari kerja kolektif dan sinergi bersama masyarakat.
Bagi Revi, penegakan hukum bukan sekadar menerapkan pasal demi pasal. Ia meyakini hukum harus berjalan seiring dengan nilai sosial dan budaya masyarakat. Di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, ia menegaskan bahwa nurani dan tanggung jawab manusia tetap menjadi fondasi utama penegakan keadilan.
Kini, dengan sembilan polsek di bawah wilayah hukum Polres Asahan, Revi melanjutkan pengabdian yang tak pernah ia rencanakan, namun dijalani sepenuh hati. Dari mimpi menjadi guru hingga memimpin institusi kepolisian, perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa pengabdian bisa lahir dari jalan yang tak terduga.
(Nando Sagala)
