Beranda Kilas Berita “Kisah Koletro Simatupang Pekerja Tambang Yang Terus Berjuang Demi Masa Depan,Walaupun Tantangan...

“Kisah Koletro Simatupang Pekerja Tambang Yang Terus Berjuang Demi Masa Depan,Walaupun Tantangan Berat”

BERBAGI

Kalimantan,Buser24.com – Menjalani karier di bidang pertambangan batu bara bukanlah profesi yang banyak diminati oleh semua orang. Pasalnya, pekerjaan tersebut mengharuskan karyawannya untuk terjun langsung bekerja di situs pertambangan, jam kerja 12 jam dan langsung berhadapan dengan suasana dan hawa batu bara yang panas dan menyengatkan aromanya.

Tetapi, ada salah seorang pekerja tambang yang memilih untuk bekerja di bidang pertambangan batu bara, yakni Koletro Pangaribuan Simatupang kelahiran Sumatera Utara yang berjuang di Kalimantan. Ia bekerja sebagai operator Dump Truck di salah satu perusahaan kontraktor pertambangan batu bara yang berlokasi Kalimantan Timur.

“Tugas utamanya adalah sebagai Operator Dump Truck yang membawa batu bara dari hasil penggalian alat berat, kemudian melangsir ke penggilingan atau dikenal dengan crusher”.

Ceritanya dengan awak media, bahwa Koletro mengatakan pada hari Sabtu (30/01/2021) :”Sebagai pekerja tambang terlebih menjadi operator Mobil Dump Truck bukan hal yang mudah dan gampang, setiap supir atau operator harus dibekali dengan SIMPER (Surat Ijin Mengemudi Perusahaan) dan harus memilik SIM B2 umum, dan harus lulus test drive dari pelatihan yang diadakan perusahaan, disamping persyaratan resiko pekerjaan juga sangat tinggi,”paparnya.

“Koletro menambahkan :”Supir ditambang batu bara yang dibawah naungan perusahaan, sangat jauh berbeda dengan supir pada umumnya, yang dimana kita dibekali setiap mengemudi yaitu safety, perlengkapan keamanan pribadi setiap kerja, seperti : sepatu safety, helem, kacamata, masker, simper, dan SIM”.

Koletro menceritakan kepada awak media, bahwa beliau sudah hampir 5 tahun sebagai operator tambang, dan segala suka duka didunia tambang sudah menjadi bagian hidup dan tantangan hidup untuk terus berjuang demi masa depan,”tutupnya 

(Nando Sagala)