Beranda Kilas Berita Akibat Gangguan Penglihatan Dan Jantung Masana Tarigan Rela Mengakhiri Hidup...

Akibat Gangguan Penglihatan Dan Jantung Masana Tarigan Rela Mengakhiri Hidup Dengan Gantung Diri

BERBAGI

Buser24.Com Tanah Karo(Sumut) Akibat gangguan pengelihatan dan jantung, membuat hati seorang petani Masana Tarigan (50) rela mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri dikamar rumahnya Jumat 24/9/2021 Pukul 12:30 WIB tepatnya di desa Suka pilihen Kecamatan Tiga Panah Kab Karo.

Kejadian bermula saat anaknya Elovani beru Tarigan memberi makan siang ayahnya.
Setelah diberi makan ,elovani keluar dari rumah dan beranjak menuju halaman depan rumahnya.selang beberapa saat kemudian kembali masuk kerumah dan alangkah terkejutnya melihat bapak tercinta tergantung di Jerjak besi jendela kamar dengan leher terikat kain panjang ( jarik) .langsung menghubungi ibu kandungnya Sarinda Beru Tarigan 49 untuk pulang kerumah .

Dan mendapati ketiga buah hatinya Asmika Beru Tarigan 21,Markurius Tarigan ,Elovani Beru Tarigan 16 menangis serta melihat jasad suaminya yang sudah tidak bernyawa jeritan tangis pun pecah seketika sehingga tak terbendung lagi, mendengar suara tersebut warga sekitar pun berdatangan dan turut prihatin atas kejadian yang menimpa keluarga Tarigan(salah satu marga suku Karo) .

Menurut informasi yang didapatkan dari masyarakat,yang enggan disebutkan namanya kepada wartawan menjelaskan
bahwa Korban selama ini mengalami gangguan penglihatan yang menyebabkan korban tak pernah lagi keluar dari rumah.

Juga dibenarkan anak kandung dari korban
Markurius Tarigan bahkan selama 2 Minggu tidak pernah lagi keluar,serta gangguan jantung ,diduga mengakibatkan jiwa bapaknya mengalami stress terjadilah seperti ini’ Terangnya dengan air mata berlinang.

Pukul 12.30 WIB, Kepala Desa bersama dengan anaknya langsung ke TKP membuka ikatan kain panjang (Kain Jarik) dan menurunkan Korban dan korban telah meninggal dunia.

Selanjutnya berkordinasi dengan Petugas medis dari Puskesmas Tigapanah yang menyatakan bahwa Korban murni bunuh diri tidak ada ditemukan bekas luka akibat penganiayaan ataupun hal lainnya

Keluarga korban pun membuat surat pernyataan atas musibah tersebut yang disaksikan oleh Kepala Desa, untuk tidak dioutopsi dan tidak dilanjutkan ke proses hukum yang berlaku di NKRI dan disah kan oleh Kepala Desa.

(Ebenezer Tarigan