WAH…GAWAT…”PENAMBANGAN TIMAH DI SUNGAI PERIMPING BANGKIT URUSAN IZIN ADA PANITIANYA

68
BERBAGI

Buser24.com,Bangka belitung – Sungai perimping merupakan daerah Aliran Sungai (DAS) dengan muka muara teluk klabat mengikuti pasang surut mempunyai lebar sungai hingga 260
meter sampai 143 meter dan panjang 2,70 kilo meter kontur kedalaman juga berfariasi pada hulu sungai yang terdapat jembatan perimping penghubung kecamatan Riausilip dengan
Kecamatan Kelapa.

Sungai perimping dikelilinggi oleh hutan Maggrov dengan permukaan tanah berlumpur dan berpasir menjadikan warna air gelap hal ini menjadi tempat habitat Udang, ikan dan Kepiting bahkan buaya berkembang biak secara alami.

Menurut keterangan dari warga bernama Udin dengan usianya yang kini 68 Tahun menceritakan kepada awak media la dari duluk agik kecik sampai nee la tue dapetlah untuk maken keluarga dirumah idup ne dak usah banyak tingkah seperadik makaen mane ade ee dek kawah kedadek (dari kecil sampai saat ini cukup tua dapat juga untuk makan keluarga dirumah hidup ini jangan banyak tingkah saudara makan mana adanya jangan sampai muntah).

Menyinggung adanya aktifitas penambangan ilegal menggunakan phonton apung dengan cara rajuk sudah bertebaran di sepanjang sungai Perimping hingga berulang kali dilakukan penertiban oleh penegak hukum dengan peringatan dan penyitaan serta pembakaran alat sarana kerja penambangan ilegal bahkan sampai dilakukan penangkapan pelaku dandijebloskan ke penjara, namun hal ini tidak membuat efek jera bagi penambang ilegal lain yang terus menggarap permukaan tanah untuk mendapatkan pasir timah.

Hingga pantauan awak media sungai perimping mulai bermunculan phonton apung yang beraktifitas di tengah sungai dan pinggir sungai belum diketahui pemiliknya namun sebagian warga yang menyebutkan bahwa pemilik dan pekerja dari berbagai daerah berbaur menggarap pasir timah, kami hanya pekerja kalou urusan izin dan legalitas kami tidak tau menau ada panitianya yang ngatur hal itu ungkap YN saat dikonfirmasi awak media.

pada salah satu sudut pandang setiap manusia berhak untuk mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang layak, namun sisi lain suatu pekerjaan mempunyai peraturan aturannya Pertambangan, lingkungan maupun leaglitas usaha serta terkait masalah operasional produksi.(FR)